Istiqamah Menuntut Ilmu, Modal Perjuangan Sukses Profesor Malik Ibnu Sabil

by - Juli 12, 2018


Review Buku "Dendam" Si Yatim Piatu. Sebuah perjalanan kalbu: Malik Ibnu Sabil

Hai Ladies, dalam 3 hari aku sudah mereview sebuah buku yang menurutku sangat inspiratif untuk semua orang yang sedang berjuang mencari ilmu.

Buku yang memiliki ketebalan 266 halaman ini akan aku bagi dalam 3 part. Periode kecil, remaja dan dewasa.

Masa kecil Malik Ibnu Sabil.
Malik kecil lahir dan besar dari pasangan suami istri yang saling mencintai. Sehingga ruang batin Malik selalu terisi dengan kebahagiaan. Ayahnya seorang tokoh masyarakat yang memimpin pesantren di pedalaman Sukabumi, Jawa Barat. Bisa dikatakan kehidupan finansial Malik dan keluarganya berkecukupan.
Oya, Malik merupakan anak tunggal dari kedua orangtuanya. Bisa dibayangkan betapa menyenangkannya masa kecilnya di lingkungan pesantren yang sarat dengan nuansa agamis.

Ia dilahirkan pada masa perang kemerdekaan RI. Penulis tidak mencantumkan tahun lahir beliau. Karena memang ternyata dokumen kelahiran Malik tidak dibuat. Jadi masa-masa itu situasinya sebenarnya mencekam karena hal-hal yang tidak diinginkan bisa saja terjadi. Ternyata, ayah Malik, Kiai Mahfud pun termasuk dalam target penjajah. Musibah penculikan ayah Malik, tidak pernah ia ketahui sampai ketika usianya sudah remaja. Semuanya terbongkar ketika salah seorang Uwaknya menceritakan apa yang membuat Malik hidup nomaden. Berpindah dari satu keluarga ke keluarga lainnya. Semua dilakukan sang ibu, untuk menyembunyikan Malik dari sasaran penculikan dan menyelamatkan masa depannya. Yaaa, sekolah Malik jauh lebih penting dari apapun bagi sang ibu.

Perangai Malik, walau masih kecil sudah menyita perhatian orang. Tidak pernah mengeluh, dan nrimo apapun keadaan yang menimpanya. Tapi, "dendam" yang ia punya sudah tertanam dalam batin Malik sejak kecil. Bahwa ia akan membanggakan ayahnya dengan rajin belajar, walaupun ia sendiri tidak pernah melihat kehadiran ayahnya lagi sejak usia 5 tahun.

Hmm, awalnya aja udah bikin penasaran dan menginspirasi ya. Baca terus sampai selesai yaa. Bukunya udah Open Order lohh kalo kamu mau tanda tangan penulisnya Mba Sintha Rosse atau tag aja akun FBnya: Nyimas Rosse😘


Lanjuuut yaa, ini aku akan review part kedua yang juga sangat aku rekomendasikan untuk para dedek-dedek gemess. Yaa, kita masuk pada part ketika tokoh buku ini, Malik Ibnu Sabil, memasuki fase remaja.

Ahemmm, pada mau yekaaan bagaimana seorang Malik Ibnu Sabil jatuh cinta?

Sebagai seorang anak yang terlahir dari keluarga agamis, pola asuh yang diterapkan oleh orangtuanya, yakni antara sekolah, mesjid dan rumah telah membentuk kepribadian yang kuat pada diri anak remaja tanggung. Pada bab 7 : Lika-liku Remaja Tanggung (hal. 114-128) dan bab 8 : Siapakah Berlian paling Berkilau itu? (hal. 129-138) diceritakan secara detail sikap seorang anak remaja laki-laki yang tengah jatuh cinta.

Memang, zaman itu, tabu bagi masyarakat kita mengumbar rasa kasih sayang secara vulgar. Seperti yang sekarang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Dimana pasangan muda-mudi sudah tidak lagi memperhatikan tata krama menunjukkan perasaannya di hadapan khalayak ramai, dan orang tua.

Tetiba saya teringat pada teori dalam ilmu sosiologi, bahwa seorang tokoh itu memang seakan sudah dipersiapkan oleh semesta. Jadi, sedari kecil, remaja dan dewasa sudah terjaga adabnya, tingkah lakunya, supaya tidak menjadi bumerang dimasa datang.

"Malik melihat sesuatu yang indah tatkala baru saja menutup pintu rumah Wak Jumadi. Sesuatu yang sering disebut perhiasan dunia."

Hmm, sudah tau kan apa yang dimaksud Malik?

Yaaa, dia hanya memendam rasa itu dalam hati. Namun sebagai orangtua yang merawat dirinya, Wak Jumadi paham perasaan itu terhadap Nur'aini. Seorang gadis yang bahkan Malik sendiri belum tau siapa namanya. Hal inilah yang memutuskan orangtua itu menjodohkan dirinya dan "berlian hatinya."

Nah, seperti apa kisah-kasih mereka?
Sorry, aku ga mau spoiler hehehe ...


Nah, sekarang kita masuk part ketiga dari yang aku janjikan.
Fase Kehidupan Dewasa seorang Profesor Linguistik Malik Ibnu Sabil.

Akhirnya, "dendam" seorang anak laki-laki yatim piatu dari Kiarakoneng, Jawa Barat, terbalaskan secara tuntas tatkala pengukuhan dirinya sebagai Guru Besar Ilmu Linguistik di Universitas Bangsa. "Hidup memang penuh misteri. Kita cuma bisa jalani dengan ikhlas dan percaya semua sudah ada yang mengaturnya," (hal. 256).

Malik menggunakan 'misteri' tersebut sebagai penyemangat hidup untuk terus berjuang di jalur pendidikan. Tak berlebihan rasanya jika saya pribadi mengatakan buku ini merupakan salah satu kisah inspiratif yang mesti dimiliki oleh kalian para pejuang ilmu, dan pecinta literasi di belahan bumi manapun.
Penulis menceritakan kisah sukses Profesor Malik, diakhir bab buku yang terbagi dalam 17 bab. Dan menjadikan kisah sukses menjadi klimaksnya. Bahwa sukses tidak bisa diciptakan dalam sulap satu malam.

Namun, tempaan berupa ujian dan terkadang menguras air mata akan terasa manis ketika semuanya berlalu.
Diceritakan bagaimana Malik mendapatkan bumbu pahit kehidupan seperti difitnah, karya-karya beliau di jiplak oknum. Lantas bagaimana ia menyikapi hal semacam ini?

Kalian para pejuang ilmu, terutama mahasiswa yang sedang bergelut dengan tugas-tugas kampus, akan merasakan bahwa 'ujian' yang kalian punya belum seberapa dibandingkan ujian hidup yang sebenarnya.

Sebuah pepatah mengatakan bahwa, perbuatan baik akan kembali kepada pemiliknya. Demikian juga sebaliknya. Malik terus membawa pesan Sang Ayah, Kiai Mahfud, "Hidup tak dapat diraih tanpa perjuangan. Jika hendak menjadi orang hendaklah istiqamah. Melangkah dengan keteguhan prinsip, dan kemampuan sendiri." (Hal. 242)

Yihaaaa, sudah selesai aku mereview buku inspiratif ini. Akan banyak halaman buku yang bakal kalian tandai untuk meresapi kalimat-kalimat pembangun yang memotivasi diri.

Saranku , yuks, ikuti langkah Profesor Malik Ibnu Sabil menuntut ilmu setinggi-tingginya supaya kalian lebih menikmati arti perjuangan yang sesungguhnya.


Judul : Dendam si Yatim Piatu
Penulis: Sintha Rosse
Penerbit: Pustaka Mandiri
Cetakan : I, 2018
Tebal : 266 halaman
ISBN : 978-602-359-073-5


#ReviewBukuByNovaYulfia
#DendamsiYatimPiatu
#BukuInspiratif
#SuksesDenganIlmu
#CintaLiterasi

You May Also Like

0 komentar