Tayangan Sinetron sebagai Salah Satu Penyumbang Adegan Bullying pada Remaja

by - Juli 18, 2017


Sungguh sangat tragis kondisi pergaulan remaja zaman sekarang. Aksi di layar kaca dijadikan sebagai tuntunan. Miris sungguh. Belakangan sangat viral tayangan video aksi bullying. Dalam adegan terlihat bagaimana seorang anak berkebutuhan khusus di olok-olok temannya sesama mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta. Bagi si pelaku aksi tersebut mungkin hanya sekedar hiburan yang menyenangkan. Melihat orang lain tersiksa, mereka tertawa-tawa. Dimana letak hiburannya?
Usia remaja  merupakan usia labil yang sedang gemar meng-explore diri. Dalam bidang apapun, dalam rangka mencari jati diri. Untuk menunjukkan “aku bukan anak kecil lagi”. Teori ini teramat sering menjadi kambing hitam atas persoalan kenakalan remaja.
Tahukah Anda, bahwa adegan kekerasan tersebut banyak berasal dari berbagai sinetron yang menurut saya kurang mendidik. Kurang mendidik dalam arti konten dan adegan. Banyak adegan aksi bullying ditayangkan dengan jalan cerita yang muter-muter ditempat. Perebutan harta, kekuasaan serta pasangan nyaris mewarnai semua sinetron di layar kaca kita. Aksi balas dendam, mulai dari yang paling halus seperti menghasut sampai aksi yang melibatkan fisik seperti memukul, menampar, memjambak dan sebagainya.
Beberapa penelitian mengatakan bahwa, menonton sinetron itu termasuk satu salah faktor yang  besar andilnya sebagai penyumbang yang turut merusak otak dan mengacaukan pola perilaku.
Teori tersebut memang ada benarnya. Sejatinya otak kita saat menonton akan terpengaruh memasuki arena apa yang kita tonton. Ketika menonton aspek emosi sangat berperan. Ketika tontonan menjadi tuntunan, daya rusaknya akan semakin tinggi.
Jika sudah seperti ini siapa yang hendak dipersalahkan?
Sang pembuat tayangan sinetron-kah?
Akrtis sinetronnya-kah?
Atau stasiun tivi yang menayangkan sinetron tersebut?
Bila menjadi biang keladi memang sangat mudah. Tapi kita harus fokus pada solusi, bukan masalah. Bagaimana caranya yang efektif dan efisien menghindarkan tontonan tivi menjadi ftuntunan bagi remaja. Sehingga aksi bullying dapat diminimalisir. Serta Filter apa yang akan kita gunakan?
Beberapa poin berikut ini mungkin dapat dijadikan sebagai bahan perenungan bagi semua pihak agar remaja kita tidak terus memproduksi aksi bullying:

Pihak keluarga
Keluarga sebagai bagian unit masyarakat terkecil merupakan fondasi awal filter bagi remaja kita. Keluarga bukan saja berfungsi sebagai wadah perkembangbiakan keturunan, namun lebih dari itu yakni berfungsi sebagai aspek edukasi dan rekreasi.
Filter awal tumbuh kembang seorang remaja bermula bagaimana ia mendapatkan perlakukan layaknya sebagai anak. Disayangi, dimanja, dididik dengan penuh kasih sayang dari kedua orang tua.
Orang tua yang mengaku mencintai generasi penerus mereka pasti memiliki formula asuh yang baik. Guna mempersiapkan anak yang diharapkan. Tidak hanya pandai, namun memiliki karakter yang positif sesuai dengan norma-norma yang berlaku umum dalam masyarakat Indonesia.
Termasuk masalah tontonan yang menjadi aspek rekreasi dalam keluarga. Memilih siaran televisi, tidak melulu harus menjatuhkan pilihan pada sinetron. Mungkin ada sinetron yang layak dikomsumsi oleh keluarga tetapi banyak yang tidak layak. Jadilah penonton yang cerdas wahai keluarga Indonesia. Adegan yang diperagakan dalam aksi visual itu akan terekam lama dalam ingatan. Makanya sangat disarankan pada para orang tua untuk memilihkan tontonan yang mendidik bagi anak-anak kita.

Pihak masyarakat
Apa peran masyarakat dalam mem-filter tayangan sinetron yang memuat adegan bullying? Banyak sekali. Sinetron tersebut mendapatkan income dari banyaknya iklan dan rating. Bila masyarakat  kebanyakan memutuskan untuk tidak menonton sinetron, maka besar kemungkinan rating akan turun dan tayangannnya dihentikan. Sudah banyak yang terjadi seperti ini. Akhirnya pihak stasiun tivi dan para produser hanya akan memproduksi tayangan sinetron yang benar-benar mendidik sesuai dengan selera konsumen. Bisakah kita mulai melakukan ini sekarang?

Pihak lembaga pendidikan
Sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah filter penting juga dalam mem-filter bullying. Hari-hari anak sepertiga atau sebagian waktu mereka dihabiskan disekolah. Bahkan menurut beberapa sumber aka nada nantinya full day school. Berarti anak akan lebih banyak berada di sekolah ketimbang dirumah. Bagaimana peran lembaga sekolah menyetop bullying?
Hapuskan sistem perpeloncoan atau MOS (Masa Orientasi Siswa) yang tujuannya lebih banyak untuk membuka praktek bully. Sejak dulu MOS ini dianggap penting guna keberlangsungan jalannya pengajaran disekolah. Berapa banyak kita dengar korban bullying berjatuhan dan ada yang sampai meninggal dunia. Dan mirisnya, bullying yang terbalut dalam kegiatan MOS itu banyak sekali yang ditiru dari adegan kekerasan sinetron.

Menonton sinetron memang tidak termasuk melanggar hukum. Tetapi meniru adegan kekerasan dalam tayangan sinetron ke dalam dunia nyata, adalah sebuah kejahatan. Dan kejahatan harus ditumpas dari muka bumi. Remaja sebagai konsumen tayangan sinetron terbesar, jangan sampai terpapar aksi bullying lebih lanjut. Mari secara bersama-sama kita berikan filter bagi kelangsungan masa depan mereka yang masih panjang.

You May Also Like

0 komentar