Tangisan Hujan

by - Mei 29, 2017



“Hujanlah yang deraaasss” pekik Avi dalam hati. Bibirnya rapat terkunci. Tak berkata sepatahpun sejak satu jam yang lalu. Sementara para perias telah keluar meninggalkan gadis itu beberapa menit lalu dari kamar pengantin ini.

Cantiknya Avi dalam balutan kebaya biru tak membuat otot wajahnya mengukir seulas senyuman. Datar.

Bukan tanpa alasan ia berharap demikian. Di luar sedang hujan deras. Lengkap dengan petir yang menyambar. Kilatan petir bagai suara musik rock paling cadas di telinga Avi.

Ingin ia keluar berlari menikmati hujan seperti biasanya.

Avi amat menyukai hujan. Dalam hujan ia mampu menyembunyikan titik air mata. Sedih dan hujan adalah jodoh yang tepat.

“Mengapa Avi yang harus dikorbankan Ayah?’ tanya gadis 16 tahun itu dalam isaknya.

“Tunjukkan baktimu pada kami sebagai orangtuamu, Avi!” bentak ayah kemudian berlalu.

Meninggalkan Avi dan Ibu di ruangan sempit yang mereka sebut rumah selama umur hidupnya.

Pupus sudah cita-cita gadis manis berlesung pipi itu. Habislah segala upaya Avi hendak mengubah takdirnya.

Lahir dari pasangan suami istri petani miskin. Padahal petuah bu Ani di sekolah, takdir bisa diusahakan berubah, asal giat belajar. Suntikan semangat inilah yang Avi pegang sampai predikat juara umum tak pernah lepas dari genggaman.

“Setidaknya di tunda sampai Avi selesai ujian nasional Bu, “ bujuk Avi memohon pada perempuan berhati lembut itu.

Namun tanpa aksara pun Avi sudah paham, Ibu takkan mampu meminta apapun pada Ayah.

Tanpa persetujuan Avi , hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi para gadis desa seperti dirinya, telah di tentukan. Bersanding dengan anak tuan tanah, siapa akan menolak. Tapi Avi, jangankan suka, melihat wajahnya pun ia tak sudi.

Sementara diluar kamar, orang-orang sudah kasak-kusuk. Sebab, tuan penghulu yang seharusnya akan menikahkan Avi dan anak Tuan Kodir belum juga datang.

Segala kalimat suci dirapalkan Avi, layaknya mantra sakti. Untuk kabur dan melarikan diri, Avi tak cukup punya keberanian. Di dalam benaknya, hanya Ibu yang kelak akan menanggung  akibatnya.

Seketika pintu kamarnya di ketuk.

“Ya Tuhan, inikah takdirku?” ratap Avi semakin menggigil.

Bahunya terguncang keras. Ia berjalan ke arah pintu dengan langkah sangat pelan. Dipicingkannya mata sembari menggeleng kuat-kuat.

Laa yukallifu nafsan illa wus’aha. Bismillah, ia memutar gagang pintu.

Wajahnya masih menunduk, tak ingin melihat siapa yang mengetuk pintu. Biarlah aku berjalan menuju penghulu, tanpa memandang calon suamiku, pikir Avi.

Sementra hujan semakin deras, sangat deras. Petir dan kilat terdengar begitu keras. Memecah langit. Seakan langit sedang sendawa, menyaksikan gadis penurut itu menjadi ganti akan hutang piutang sang ayah pada Tuan Kodir.

”Avi, ayo pulang”, kata Ayah.

Avi mengangkat wajahnya dengan mata melotot. Seakan tak yakin pada pendengarannya. Belum sempat ia membuka mulut mengajukan pertanyaan.

“Kampung kita kebanjiran, tuan penghulu terjebak dalam banjir. Sawah Tuan Kodir ikut gagal panen. Kamu bebas Avi!”

You May Also Like

0 komentar