Surat Undangan

by - Mei 29, 2017



“Tak rindukah kau padaku, Joy?” tanya Kinan pada sosok lelaki di sebelahnya sembari matanya menatapi pemandangan sore itu di taman.

Di ujung lembayung senja kedua sosok yang telah lama saling tak bersua kembali merajut waktu yang tersisa. Masih di taman yang sama. Bangku yang sama.

Tiga tahun Joy dan Kinan tak mendatangi taman ini, tiada yang berubah. Riak tepian danau ini pun masih sama. Di taman ini mereka kerap menghabiskan waktu memadu kasih. Ukiran kenangan yang mustahil dilenyapkan begitu saja dari ingatan.

“Apa kau masih butuh jawaban, Kinan?" balas Joy membalas pertanyaan Kinan dengan suara parau.

Gemuruh rindu yang ia bawa dengan penuh sukacita dari Belanda, tempat dimana Joy menuntut ilmu selama 3 tahun belakangan, hendak ia tuntaskan sore ini di taman favorit mereka.

Suasana semburat jingga di ufuk barat di tingkahi angin lembut yang membelai rambut Kinan, tak mengurangi kecantikan gadis hitam manis itu. Sesekali ia membenahi helaian rambut yang jatuh menutupi wajah sendunya.

Beribu tanya menggantung dalam benak Joy perihal raut wajah kekasihnya itu. Teringin rasanya ia membelai wajah yang tak pernah lepas dari ruang mata selama 3 tahun.

Namun nyatanya tak ia lakukan. Demi melihat di kesepuluh jari kekasihnya telah berukir. Lengkap dengan sebuah cincin permata melingkar cantik di jari manisnya.

Di saat matanya terpaut pada jari-jemari Kinan, sontak secara refleks Kinan menyembunyikannya dalam sedekap. Pada saat itulah kedua mata mereka beradu pandang.

Joy mencoba menyelami kembali lautan rindu yang selama ini menjadi miliknya pada kedua manik mata Kinan. Tak ada kata. Kala tatap mata telah menceritakan segalanya, maka bahasa kalbu telah mewakili seluruh isi hati.

“Maafkan aku, Joy” ucap Kinan dengan mata yang telah menitikkan air.

Lelaki tampan berperawakan atletis tersebut bangkit dari duduknya sembari menarik rambutnya.

Aaaarrggh, ia tampak mengarahkan tinjunya pada sebatang pohon di sisi bangku taman. Tangis Kinan semakin  terisak. Tak sangup ia menyaksikan sang kekasih yang sedang terluka.

Tak beda dengan dirinya, ia jauh lebih sakit. Hatinya remuk kala Bunda memintanya menerima pinangan lelaki lain. Alasan klise, perjodohan.

Seminggu lagi perhelatan akan di gelar. Undangan sudah di sebar kepada sanak saudara dan para kenalan. Kinan menyisakan sepucuk untuk menuliskan nama Joy Pratama di alamat penerima.

Cinta suci Kinan dan Joy tak mendapat restu Bunda dengan alasan lelaki pujaannya tak bersuku. Kinan yang berdarah Minang tak diizinkan Bunda bersatu dalam ikatan putihnya pernikahan. Tersebab Bunda Joy berasal dari tanah Jawa.

Kinan berjalan perlahan mendekati Joy. Teringin rasanya ia bergayut manja di lengan lelaki itu seperti dulu. Ketika tangannya terangkat, seketika ia tarik kembali. Terlihat kilau permata pada cincin pemberian Bahar beberapa hari lalu begitu menyilaukan. Akhirnya ia urungkan.

“Terimalah Joy” dengan tangan bergetar gadis itu memberikan sepucuk undangan pada Joy.

Sungguh tak sanggup Kinan menyaksikan lagi luka yang semakin besar pada kekasih yang hingga detik itu masih ia cintai sepenuh hati.

Tanpa kata, Kinan berbalik arah memunggungi Joy dan menjauh.
Meninggalkan Joy beserta undangan bercorak Rumah Gadang.

Sepeninggal Kinan, Joy membuka undangan tersebut. Bagai tersengat ribuan lebah tatkala melihat nama mempelai laki-laki yang tertulis. Kinan Anggraini dan Baharuddin Yoesof. Saudara tirinya, beda ibu!

You May Also Like

0 komentar