Selalu Bapak

by - Mei 29, 2017



Padi yang telah menguning di persawahan milik bapak harus segera dipanen. Perjuangan sekian bulan ini hampir terbayar dengan panen yang sudah di depan mata. Derasnya cucuran keringat bergelut dengan teriknya matahari bapak lakoni setiap hari. Telah terbayang di pelupuk mataku, cita-cita untuk melanjutkan sekolah ke kota akan segera terlaksana. Ahh, bahagianya.

“Pak, jika aku di kota nanti, Bapak dirumah baik-baik ya. Aku akan rajin belajar, Pak”, kataku pada bapak sore itu di pematang sawah.

Rencananya besok setelah Sholat Dhuha, aku akan membantu bapak memanen sawah kami. Bapak hanya tersenyum sembari mengusap kepalaku.

Malamnya harinya, mataku sulit sekali di pejamkan. Bukan prosesi panen saja yang membuat mataku masih melek hingga jangkrik di luar sana seakan menemani lamunanku.

Sejak ibu pergi meninggalkanku dan Bapak, untuk menikah dengan juragan sayur di kampung sebelah, aku sudah tak sudi bertemu perempuan yang melahirkanku itu.

“Kenapa kamu tidak mau menemui ibumu, Sarah?” tanya bapak suatu hari.

“Bapak tau kan alasanku? Sarah ga butuh uang ibu, Pak. Dia mau pamer sama Bapak, kalo dia benci hidup miskin seperti kita,” jawabku gusar.

Ya, karena uang, ibu telah gelap mata. Menurut cerita Uwak Hadi, ibu dulunya seorang anak orang kaya di kota. Menikah dengan bapak lantaran ibu terpikat dengan sikap bapak yang tenang dan bersahaja.

Tetapi, ternyata cinta ibu tak cukup kuat pada bapak, saat usaha toko kelontong  mereka bangkrut. Untunglah bapak masih punya beberapa petak sawah di kampung.

Ibu yang sejak itu jarang memegang uang dalam jumlah besar seperti saat toko kelontong masih ada, mulai berubah.

Singkatnya, bapak dan ibu berpisah serta meninggalkanku juga.

Sebenarnya, ada kekhawatiran jika aku pergi ke kota dan meninggalkan Bapak. Siapa nanti yang akan mengurus beliau. Bapak memang selalu mendukung apapun cita-citaku.

Menjelang subuh, aku baru terlelap.

“Saraaaaaah…” panggil Bapak dengan suara parau dan sesekali terbatuk dari biliknya. Aku bergegas bangun dan menghampiri bilik beliau.

“Ya Pak, Sarah disini. Bapak butuh apa?” kataku panik melihat Bapak terbatuk mengeluarkan bercak darah di lantai. Kondisi Bapak semakin parah.

Seingatku bapak memang sering batuk-batuk akhir –akhir ini.

”Sarah, Bapak bangga padamu. Maafkan bila Bapak tak mampu menyaksikan kesuksesanmu, Nak. Waktu Bapak sudah tidak banyak. Sepeninggal Bapak nanti, tinggallah bersama ibumu. Dia sudah Bapak kabari soal ini. Uang hasil panen kita, pakai dengan bijak untuk sekolahmu”, kata Bapak.

Selang beberapa saat kemudian, bapak sudah tidak bicara lagi. Batuknya berhenti dan kakinya dingin. Aku meraung sejadi-jadinya.

”Bapaaaak, padi kita sudah kuning. Kita harus ke sawah Pak. Bapak sudah janji sama Sarah”, aku terus menceracau memanggil nama bapak.

Mungkin sebenarnya Bapak tidak sepenuhnya rela melepasku ke kota. Ia menahan perasaannya demi mampu mewujudkan keinginanku, anaknya.

Mungkin nanti, aku tak perlu menyesali keputusan ini. sebab, Bapak selalu ada dalam hatiku, di jiwaku. Selalu Bapak.

You May Also Like

0 komentar