Review buku: Cahaya di Penjuru Hati

by - Mei 09, 2017



Ketika membaca sebuah buku, saya selalu melakukan ritual penting. Yaitu memerhatikan penulisnya siapa, lalu membaca dengan seksama perihal tentang sang penulis. Saya hanya ingin membaca sebuah buku yang membangun jiwa. Setelah itu, daftar isi, barulah masuk kepada bab pertama, teruuus sampai selesai. Biasanya rekor membaca saya hanya 2 jam setebal apapun buku.

Oke, saya mendapatkan buku novel Cahaya di Penjuru Hati ini. Sejak awal kemunculannya, saya selalu berdoa semoga buku ini saya yang mereview. Kekutan pikiran dan memang kami berjodoh, akhirnya melalui sahabat saya Bety Sulistyorini Kristianto, kami dipertemukan. Sungguh tiada yang kebetulan di dunia. No Coindentia. Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba.



Dari tangan penulis beken Alberthine Endah, beliau menuliskan sebuah kisah cinta yang diangkat dari kisah nyata. Tentang Alberthiene Endah, sudah lama saya mengagumi karya-karya beliau. Mimpi sejuta dolar dan Athirah dikemas apik melalui tangan dingin perempuan yang juga mencintai sepuluh anjing peliharaannya.

Buku ini berkisah tentang bagaimana seorang lelaki sukses, mapan, memiliki segalanya sebagai syarat pria sukses masa kini yang kemudian ditinggal pasangan jiwanya.

"Kau tahu seperti apa rasanya laki-laki yang kehilangan cinta sejati menghadapi hari? Cahaya matahari yang kau lihat sempurna akan mendarat berbeda di mataku. Pertama-tama, aku akan menyibak tirai jendela, melewati area duduk yang ada di depan ranjang. Kubuka daun pintu menuju balkon mungil dan daun jendela lebar disisinya. Itu kebiasaan Lili. Ia akan membiarkan udara pagi menyapu sudut kamar dan cahaya matahari menguliti seisinya. Tubuhnya akan berbalik dan dalam pakaian tidurnya yang manis, ia tersenyum. Istreku adalah bidadari yang lahir dari embun pagi".

Bagaimana perasaan kita diaduk-aduk membaca curahan hati seorang Wim, tatkala sang isteri yang teramat ia cintai dan telah berpuluh tahun menjadi belahan jiwanya berpamitan meningalkan dirinya seorang diri melanjutkan hidup diatas dunia.

Sebagai pecinta buku sejak usia 9 tahun, tiap buku memang memiliki kesan tersendiri. Tetapi, sayangnya pada buku ini emosi saya tak cukup mampu melanjutkan bacaan dalam dua jam. Butuh waktu 2 hari menamatkan kisah cinta pasangan suami istri yang patut ditiru pasangan muda zaman sekarang. Beginilah seharusnya kalian mencinta. Bahwa cinta itu memberi. Bukan sekedar menuntut ini itu.

Tak banyak kisah cinta pasangan suami isteri pesohor negeri yang dibukukan, selain kisah mantan Presiden Habibie dalam Habibie-Ainun tentunya. Padahal para pasangan membutuhkan suri tauladan sebagai role mode. Bila sang tokoh saja mampu menyeimbangkan antara karir dan keharmonisan rumahtangga, lalu apa lagi alasan bagi kita yang perjalanan biduk rumah tangganya masih seumur jagung.


Pada akhirnya saya sebagai perempuan, sebagai isteri menganggap buku novel goresan Mba Alberthine Endah yang berjudul CAHAYA DI PENJURU HATI patut dijadikan buku panduan bagi orang yang ingin melanggengkan sebuah ikatan perkawinan. Disamping sangat menyentuh, banyak pelajaran berharga yang terserak didalamnya. Kata-kata bijak pun dapat kita jadikan renungan yang positif.

Sebagai penutup, Anda harus baca buku yang belum tentu ada lagi tandingnanya ini. Sejak tanggal 29 april 2017, PENERBIT ANDI telah memasarkan ke seluruh toko buku di Indonesia.
Tapi bila langsung pesan melalui online silahkan hubungi Bety Kristianrto di WA 0818-0200-1280

Selamat membaca CAHAYA DI PENJURU HATI...

#REVIEWBUKUCDPH

You May Also Like

0 komentar