Ketika Kulihat Dia

by - Mei 29, 2017



Sudah sepuluh menit berlalu, sejak ia sampai di halte ini tak ada tanda-tanda kecemasan di wajahnya. Kendaraan umum semakin malam semakin sepi.

'Perempuan macam dia sudah selarut ini masih berada diluar rumah', tanyaku dalam hati.

Ini sudah kesekian kalinya aku melihat dia. berada di halte yang sama. Masih dengan wajah  yang seolah tanpa beban. Usianya jika ditaksir mungkin sebaya dengan Zidni, adik perempuanku satu-satunya. Perawakannya pun nyaris sama dengan Zidni. Hanya kulitnya agak lebih  putih. Terlihat jelas di bawah cahaya lampu halte yang terbatas.

Aku tak pernah sampai tuntas mengamati gadis berambut sebahu itu. Terlihat ia merasa tidak terganggu dengan keberadaan kami yang tersisa berdua dsinii. Kali ini aku tergelitik hendak mengajaknya bicara, sembari menunggu Zidni menjemputku. Aku terlalu lelah naik bis menuju rumah. Lagi pula aku ingin menngajak adikku makan-makan merayakan kenaikan jabatanku di kantor.

Perlahan aku menghampirinya.

“Hai,” aku menyapanya seraya mengambil posisi duduk disebelahnya.

Ia hanya menoleh sekilas padaku dan mengukir seulas senyum di wajahnya yang semakin cantik jika dari jarak sedekat ini.

Angin malam semakin dingin menusuk tulang. Tapi Zidni belum juga sampai. Padahal tadi ia berjanji sepulang kerja akan menjemputku di halte dekat kantornya.

Ah, tak apalah, toh aku bisa ngobrol dulu dengan gadis berkaos hijau ini.

“Kamu pulang kemana?” aku memberanikan diri bertanya. Bukan apa-apa, aku hanya ingin tetap menjaga sopan santun.

“Priok,” jawabnya singkat sambil matanya terus menatap jalanan.

Tak lama kemudian kami terlibat obrolan ringan. Sepanjang obrolan itu, belum juga ada tanda-tanda ia akan pulang.

Mungkin ia juga menunggu jemputan sepertiku, bisikku dalam hati.

Tak lama kemudian, datanglah sebuah mobil. Berheni tepat dihadapan tempat kami duduk.
Si gadis berkaos hijau, mendekati mobil itu berbincang dengan pengemudinya. Kemudian ia berbalik padaku dan menyelipkan sesuatu ke dalam kantong  jaketku. Tanpa berkata apapun, ia naik mobil itu yang dikemudikan seorang laki-laki setengah baya.

Aku hanya terpaku memandang kepergiannya dengan berbagai keheranan yang menggayut.

Selang lima menit kemudian, klakson mobil Zidni menyadarkan lamunan singkat barusan.

“Maaf ya Kak lama aku ada meeting tadi,” kata Zidni
Aku hanya tersenyum. Adikku ini sangat berdedikasi pada pekerjannya sebagai copy writer di sebuah perusahan periklanan.

Restoran yang kami tuju tak seberapa jauh daril halte tadi. Sekitar 20 menit perjalanan.

Kami memasuki restoran yang buka sampai larut malam itu. Disana aku kembali melihat gadis berkaos hijau. Aku memicingkan mata, memastikan penglihatanku masih normal.

Segera kurogoh saku jaket.

Secarik kertas bertuliskan:

”TOLONG AKU! MALAM INI AKAN DI JUAL AYAH TIRIKU. HUBUNGI NOMOR 0813-7654-9876. ITU NOMOR KAKEK. HIDUPKU BERADA DI TANGAN KAMU!


You May Also Like

0 komentar