Jelang Pagi

by - Mei 29, 2017


"Kau yakin akan membalas dendam, Dena?"

Perempuan yang ditanya itu hanya duduk terdiam di hadapan sahabatnya tanpa kata. Tapi dari gemeluk giginya terasa hawa marah yang luar biasa. Tangannya di kepal sembari memukul bantal guling yang telah banjir air mata.

Mika memandangi wajah sahabatnya dengan penuh rasa iba. Tak di sangka, perempuan pendiam itu memiliki cerita kelam dalam hidupnya. Sebuah kisah yang baru di ketahui nya setelah hampir 3 tahun persahabatan mereka.

"Sabarlah Dena, tak guna kau balas kelakuan mereka padamu. Biarkan Tuhan yang memberi pelajaran. Betapa perih luka hati yang kau rasakan akibat ulah orangtuamu." Mika berusaha menenangkan sahabatnya.

Hampir 20 tahun Dena tidak pernah mengenal kedua orang tuanya. Asal-usul dirinya tak pernah jelas. Kata Tante Misna, ia di buang di tong sampah. Ayahnya tak jelas. Ibunya penjaja cinta murahan pinggir jalan. Karena hal itulah ia pun terperosok dalam dunia hitam seperti ini. Menjadi penari seksi di sebuah tempat hiburan malam . Sedikit lebih baik dari ibunya dulu. Tugasnya hanya menari di pusat hiburan malam, tanpa booking. Dena bekerja dari tengah malam hingga jelang pagi.

Sampai seorang tamu mengenali dirinya dari tanda lahir di pundak kanannya. Lelaki itu mengaku ayahnya Dena.

Hal itu membuat Dena berang. Hatinya yang membatu tanpa cinta orang tua, tiba-tiba terusik. Lelaki itu terus berusaha meyakinkan Dena perihal status dirinya.

"Kalau memang Anda ayah saya, kemana saja selama ini?". Dena berteriak. Ia memaki, mengumpat pada apapun.

Sejak itu Dena dilarang Tante Misna datang lagi ke Club. Mungkin ia khawatir Dena di celakai lelaki paruh baya yang mengaku ayahnya itu.

Hingga benang putih dan hitam tampak di ufuk Timur, semua terkuak.

"Kau jangan temui lagi Dena, Hansen."

Itu suara Tante Misna di ruang tamu. Terdengar seperti orang marah. Dena beranjak menghampiri pintu ruang tamu pelan-pelan. Karena yang tinggal di rumah besar itu hanya dirinya dan Tante Misna.

Dari lubang kunci ia kembali melihat lelaki itu lagi. Dena sangat takut. Beragam rasa berkecamuk dalam hatinya.

"Tolong katakan padanya, Misna. Aku ini ayahnya." Lelaki itu berkata penuh keyakinan.

Tante Misna melengos.

"Setelah 20 tahun kau telantarkan kami?" tanya Tante Misna gusar sembari berteriak.

Dada Dena benar-benar berdebar kencang. Peluhnya mengalir bagai butiran jagung. Hatinya teriris sangat perih.

Sebelum semua pandangannya gelap dan hitam masih dapat ia dengar suara Tante Misna dan lelaki itu berucap secara bersamaan.

"Denaaa, anakku. Maafkan kami."

You May Also Like

0 komentar