Hidup Tersisih

by - Mei 29, 2017


Sedih hati tiada terkira. Disisihkan sanak saudara. Dibuang dari pergaulan. Dianggap bagai kuman oleh orang melihat bila bersua di jalan. Apakah daya. Badan tinggal seorang diri.

Ada asap ada api. Tak mungkin semua adalah kebetulan. Hidup bermu'amalah ada sebab akibat. Bila berlaku jujur serta perangai santun. Semua orang kan sayang. Namun sebaliknya yang terjadi pada Sahal. Sejak lama perangainya menunjukkan tanda tak layak.

Seperti ciri-ciri orang munafik. Dalam Hadist Rasulullah dikatakan, bila di percaya ia khianat.

Sahal seorang jagoan kampung yang tersohor. Wajah dan perawakannya yang tinggi tegap mengundang banyak decak kagum para gadis. Nyaris lelaki idaman ada pada diri Sahal. Ditambah lagi kepandaiannya dalam ilmu bela diri. Hampir semua preman sudah ia kalahkan bertarung. Untuk bidang ini, Sahal patut diacungi jempol. Kampung kami aman.

Tapi tidak halnya dengan urusan selain berkelahi. Sahal tak bisa diandalkan, sedikitpun. Mungkin kira-kira seperti tokoh Jarwo di televisi. Semua orang pernah di kecewakan Sahal. Entah berjanji apapun. Selalu khianat.

Puncaknya pada saat Sahal di berikan tanggung jawab oleh Wak Ijah menjadi keamanan di toko beras. Perempuan berusia 50-an itu bukan tak paham bagaimana sepak terjang Sahal soal kepercayaan.

Wak Ijah terhitung masih kerabat jauhnya. Tugas Sahal hanya duduk berjaga di toko beras memperhatikan setiap gerak-gerik mencurigakan selama transaksi jual beli.

Toko beras Wak Ijah adalah toko terbesar di kampung kami. Jadi tak heran Wak Ijah butuh seorang penjaga keamanan.

"Bang Sahal, tolong jagain toko saya selama seminggu ke depan. Saya mau ke kota. Ada keperluan," kata Wak Ijah suatu hari.

Tak terkira senangnya Sahal dipercaya majikannya itu. Otak liciknya mulai berpikir meraup keuntungan selama Wak Ijah pergi ke kota.

Sahal seperti biasa, mulai khianat. Ia mulai berani masuk toko beras. Sewaktu para karyawan istirahat, diam-diam Sahal mengambil beberapa lembar uang berwarna merah. Memang kotak uang di toko Wak Ijah jarang di kunci. Karena semua karyawan adalah orang lama. Bahkan ada yang sudah generasi kedua. Wak Ijah terkenal baik budi, sehingga orang yang bekerja selalu betah.

Sepandai-pandainya tupai melompat sesekali jatuh juga. Pun sama dengan Sahal. Siang itu, ternyata para karyawan sudah mencurigai sejak awal.

"Bukti sudah terkumpul, tinggal kita tangkap tangan saja si Sahal," kata Mang Didin pegawai paling senior mengomando keempat karyawan lainnya.

Berlima mereka mengendap-endap mengawasi Sahal.

"Hayooo Bang Sahal, ketahuan!" sergah Mang Didin dan kawan-kawan.

"Nganu Mang Didin, saya penasaran sama buku catatan berwarna pink ini. Kok ada ya buku catatan warnanya gini," jawab Sahal.

Terlihat ia sangat terkejut mendapati dirinya sudah kepergok sedang menyelipkan beberapa lembar uang berwarna merah ke saku celananya.

"Mata kamu siwer ya, itu buku catatan uang yang kamu ambil tiap hari. Emang kami nggak tau," jawab Mang Didin.

Tetiba Wak Ijah sudah berada di toko tanpa sepengetahuan Sahal.

"Arak keliling kampung Mang Didin. Setelah itu buang dari kampung kita." Wak Ijah berkata tegas.

"Ampuun Wak Ijah, saya akan bertobat." Sahal memohon sembari berlutut memeluk kedua kaki Wak Ijah.

Namun Wak Ijah dan orang-orangnya tidak peduli. Jadilah Sahal diarak keliling kampung. Tak jarang beberapa tangan usil melemparinya dengan batu kerikil. Mirip orang sedang di rajam. Harga diri Sahal hancur saat itu. Tak ada sanak keluarga yang hendak menolongnya.

Apalagi saat ritual Sahal akan di buang dari kampung, seluruh keluarganya hanya diam tanpa mencoba melarang aturan kampung. Agaknya mereka pun sudah muak dengan perilaku Sahal yang tak
kunjung berubah.

"Jadikan ini pelajaran berharga, Sahal. Modal tampang dan kepandaian tak cukup sebagai bekal hidup. Jujur itu mata uang yang berlaku dimana saja. Camkan itu!" Demikian petuah Mang Didin yang tak lain adalah pamannya.

You May Also Like

0 komentar