Disini Tanpamu

by - Mei 29, 2017



Malam ini terasa sangat lamban berlalu. Suara jangkrik meningkahi di luar sana menambah mencekamnya malam. Sudah satu jam berlalu dari pergantian hari namun kedua mata Hana  belum juga mampu ia pejamkan. Sedari tadi ia hanya duduk memeluk kedua lututnya sambil terus memanggil nama Joana.

“Joana sakit apa, Hana?” tanya Feri suaminya sembari menguncangkan bahu Hana.

Matanya telah basah. Lelaki itu tak mampu berkata banyak menghadapi kenyataan. Hana  dan Joana yang ia tinggalkan ketika berangkat bekerja ke Kalimantan sebulan lalu nampak tak ada masalah apapun.

Ketika itu, Joana baru berusia 15 hari, namun panggilan pekerjaan sebagai pekerja tambang di pulau Borneo itu tak dapat ia tunda. Demi menghidupi istri dan anak pertamanya yang telah mereka nantikan selama 10 tahun pernikahan.

Hana hanya mematung, menatap kosong pada tubuh bayinya yang telah terbujur kaku. Airmatanya sudah kering. Tampak jelas pada garis hitam di bawah lingkar matanya.

Feri tak mampu mengorek informasi apapun dari mulut Hana. Menurut desas-desus tetangga yang datang melayat. Joana meninggal karena Hana tak mau menyusuinya. Bayi malang itu terus menangis sepanjang malam.

Sempat beberapa kali Bu Yani menasehati Hana, bahwa tangis bayinya setiap malam sudah meresahkan. Sampai akhirnya suara tangis Joana terhenti di suatu malam.

Hingga pagi harinya Hana terpekik histeris. Tetanggapun berdatangan.

“Ya Allah, Hana, bayimu kenapa?" tanya Bu Yani jiran sebelah rumah mereka.

Hana hanya meraung-raung sejadinya melihat bayinya telah kaku dan dingin.
Dengan komando Bu Yani, para tetangga membawa Joana ke pukesmas terdekat. Namun ternyata usaha mereka sia-sia. Joana telah dipanggil Yang Maha Kuasa.

Menyadari Hana sedang shock berat, Bu Yani menelpon Feri mengabarkan berita kematian Joana.

Tak sampai 24 jam Feri sampai di rumah. Dan ia dapati wajah putrinya telah berubah. Mungkin akibat terlalu lama menangis, wajah Joana seperti kram dan berwarna sedikit ungu.

Selang seminggu setelah Joana dimakamkan, Hana tidak bisa tidur malam. Selalu terjaga dan terus memanggil nama Joana.

“Joana, maafkan ibu,Nak”, Hana terus melolong .

Terdengar sangat memilukan bagi siapapun yang mendengarnya.

Feri tak kalah sedihnya melihat Hana berlaku demikian. Tetapi, ia seorang kepala keluarga yang penuh tanggung jawab.

Inilah cara terbaik untuk membantu Hana kembali pulih.

‘Akan kurawat kamu sampai sembuh, Hana’ bisik Feri dalam hati.

Hana meronta-ronta saat akan dibawa dengan mobil ambulance menuju Rumah Sakit Jiwa.

You May Also Like

0 komentar