Cincin Pengikat

by - Mei 29, 2017



Cincin bermata merah yang melingkar di jari manis Jingga terlihat sangat manis. Serasi dengan setelan kebaya merah yang dikenakannya.

Hari ini adalah hari paling ditunggu gadis cantik bermata bulat itu. Sang kekasih hati yang telah merajut kisah-kasih selama satu tahun belakangan resmi melamar dirinya satu jam yang lalu. Tepat di hari lahirnya yang ke 23.

Bukan main bahagianya hati Jingga. Kebahagiaan apalagi yang lebih besar saat ini, selain akan bersatunya dua insan yang saling mencintai.

“Jadilah pasanganku dalam suka dan duka, Jingga”, demikian pinta Alfa ketika prosesi lamaran berlangsung di rumah kedua orang tua Jingga.

Gadis bertubuh langsing itu hanya memamerkan kedua lesung pipinya, menanggapi permintaan sang kekasih.

Tepuk tangan riuh dari sanak keluarga yang menghadiri. Gelak tawa diantara seluruh yang hadir menambah kebahagiaan calon pasangan pengantin, Jingga dan Alfa.

Ibu Alfa dan Ibu Jingga langsung akrab. Terlihat mereka terlibat obrolan yang menyenangkan. Sesekali Ibu Jingga mengeluarkan ponselnya dan meminta kepada salah satu keluarga untuk memotret mereka berdua.

“Kita apload ke medsos yuk, Jeng” kata Bu Wiranti, Ibunda Jingga. Ucapan Bu Wiranti ditanggapi baik oleh sang calon besan.

Acara lamaran itu menghasilkan kesepakatan bahwa pernikahan akan di gelar dua bulan ke depan. Karena kedua keluarga butuh persiapan yang matang. Dengan catatan, Jingga dan Alfa tidak boleh saling bertemu muka, alias dipingit. Hanya boleh bertemu via suara ponsel.

Jelang sore, satu persatu sanak keluarga berpamitan pulang. Hanya terlihat beberapa yang masih betah mengobrol.

Tiba-tiba ponsel Alfa berdering. Ponsel itu terletak dekat TV di ruang tamu. Sementara empunya sedang ke kamar mandi. Jingga berinisiatif menjawab panggilan ponsel Alfa, karena bordering berkali-kali.

Di layar tertera, nama Jingga Juga. Jingga heran, ia tidak sedang melakukan panggilan. Rasa penasaran dengan nama yang serupa membuat ia mengangkat panggilan di ponsel Alfa.

“Halo,” panggil Jingga lunak.

“Halo, tolong bilang ke suami saya Mba, saya sudah di rumah sakit. Mungkin sebentar lagi melahirkan. Dokter butuh tandatangan dia untuk operasi”, kata seorang perempuan di seberang sana.

Sejenak Jingga menjauhkan ponsel dari telinganya.

“Maaf Mba atau Ibu, sepertinya salah sambung. Ini nomor calon suami saya,” jawab Jingga menjelaskan dengan suara yang ramah.

“Ga mungkin. Ini nomor Alfa Thomas Sastrawijaya kan?” tanya perempuan yang mengaku ‘istri’Alfa sembari sesekali terdengar ia mengerang kesakitan.

“Betul” jawab Jingga lunak hampir tak terdengar.

Tubuhnya bergetar hebat. Panggilan ia matikan. Rasa bahagia yang baru saja ia alami, kini berganti sakit luar biasa.

Tapi Ia masih mampu membuka file foto-foto di ponsel Alfa.
Ratusan pose Alfa bersama seorang perempuan terbuka jelas disana. Mesra sekali. Layaknya pasangan kekasih.

Air mata sudah membanjiri pipi Jingga. Tak puas di galeri, Jingga membuka sebuah percakapan Alfa di akun Line.

“Maaf ya sayangku, Sinta. Cincin bermata merahmu aku pinjam dulu”

You May Also Like

0 komentar