Cerpen

by - Maret 18, 2017


Berlian itu bersinar juga

Kisah kususun saat segala tangis dan ratap telah berubah menjadi senyum bahagia. Namun perjalan hidup yang penuh onak dan duri menyertai beberapa tahun silam tak mampu hilang dari ruang mata. Kini, semua itu bukan untuk disesali namun untuk kubagikan pada kalian semua. Semoga mampu mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa getir hidupku. Sebab, bagaimanapun seperti kata petuah para tetua, bahwa selalu ada pelajaran yang terkandung dalam setiap episode kehidupan.
#
Usiaku masih sangat belia kala itu, 17 tahun. Usia yang teramat belia untuk menerima sebuah kejutan hidup. Ayah tercinta yang sangat aku hormati meninggalkan aku, ibu dan keenam saudaraku yang lain untuk selamanya. Penyakit kronis yang telah beberapa tahun belakangan menemani hari beliau sudah tak mampu ia tahankan. Tumor jinak yang bersemayam itu semakin lama semakin menjadi liar dan ganas. Tubuh tua beliau yang lemah semakin ringkih ditumpangi penyakit tersebut.
Sesungguhnya tak sampai hati aku bila menyaksikan bagaimana beliau terus berjuang melawan penyakitnya. Berbagai pengobatan dan terapi ia jalani tanpa mengeluh. Hanya terkadang meringis sambil terus berzikir menyebut asma Allah.
Kadang, pada malam sepi aku terbangun. Saat itulah kuadukan pada Tuhan, supaya segera memberikan kesembuhan Ayah. Rasa tercabik hati melihat Ayah mengangunggkan rasa sakit yang sedemikian keras. Kucoba mengetuk pintu-pintu langit berharap belas kasih. Namun, aku hanyalah seorang hamba yang lemah. Tuhan juga yang punya kuasa. Mungkin doaku dikabulkan-Nya dengan cara yang bukan mauku.
Ayah meninggal dunia. Tak ada air mata yang menetes di pipiku. Setetespun. Aku tidak menangis? Bukan kesedihan luar biasa yang tak mampu aku ungkapkan melalui tetesan airmata. Tetapi hatiku menangis. Tiada yang mampu melihat. Hanya Tuhan dan aku. Rasa kehilangan yang luar biasa baru terasa tatkala aku turun ke liang lahat membaringkan tubuhnya yang wangi ke tempat pembaringannya yang terakhir.
“Ayah, ingin kamu menjadi seorang ahli agama, Nak”, kata Ayah suatu hari kala ia masih sehat.
Mungkin itu pula sebabnya Ayah memasukkan aku ke pesantren di ujung pulau Jawa sana 5 tahun silam. Tetapi, tersisa setahun lagi aku lulus dan menjadi yang Ayah inginkan, ia tak menyaksikan.
Di liang lahat itu, air mataku sempat menetesi kain kafan Ayah.
“Nantikan aku di sorga Allah, Yah. Semua pesan Ayah akan aku tunaikan”, bisikku pelan di sisi tubuhnya yang telah berbungkus kafan.
Satu episode hidup telah usai aku saksikan. Ayah telah berpulang dengan tenang. Tinggallah kami bertujuh beranak harus melanjutkan hidup seterusnya. Ibu mengumpulkan kami semua seminggu kematian Ayah.
“Anak-anakku, masa berduka kita sudahi sampai disini. Kita harus melanjutkan hidup kita kedepannya. Masih panjang perjalanan kita. Dan apa yang telah diajarkan Ayah selama ini pada kita, kerjakan dan lanjutkan”, kata Ibu.
Ibu, aku tahu ia perempuan yang sangat kuat dan tegar mendampingi kami semua menjalani masa-masa tersulit hidup kami. Sementara adikku yang bungsu masih berusia 6 tahun. Sesaat aku merasa kasihan padanya. Perasaan sedih yang kurasakan mungkin belum seberapa dari yang ia derita. Usiaku telah remaja, sementara adikku ia masih butuh belaian kasih sayang Ayah.
Sejak saat itu aku bertekad, tidak akan menjadi lelaki cengeng dan lemah. Setidaknya aku harus memberi kesan baik pada adikku.
Itulah episode awal hidupku yang mendewasakan. 

bersambung...

You May Also Like

0 komentar