Review Buku Ukiran Rasa

by - Februari 19, 2017


Saya adalah seorang pecinta buku sejak kecil. Segala macam genre bacaan saya koleksi. Mulai dari buku sastra klasik, roman, novel, buku motivasi dan banyak lainnya.
Dari hobi membaca ini akhirnya membuat beberapa teman sering mengirimkan buku sebagai hadiah dalam momen hidup saya.
Satu tahun belakangan ini, saya aktif menulis secara online. Dan saya tergabung dalam beberapa grup kepenulisan yang isinya orang-orang hebat semua. Disitulah saya bertemu dengan penulis buku Ukiran Rasa ini. Kami bersahabat di dunia maya.
Entahlah, atas rasa azaz saling percaya dan menjalin ukhwah islamiyah rasa persaudaraan ini semakin kuat.
Terus terang, saya terharu begitu buku Ukiran Rasa ini sampai di rumah dengan selamat. Karena Mba Nurdianah Dixit ini begitu saja percayakan buku karyanya untuk di berikan kepada saya secara percuma.
Bukan hanya masalah beliau minta di review. Tetapi masalah rasa yang terukir di hati kami. Seakan kami ini adalah sahabat lama yang sering bertukar cerita nostalgia.
Ah, indahnya rasa ukhwah yang terbangun antara sahabat di dunia maya.
Bagi saya melahirkan sebuah buku itu tak ubahnya bagai seorang ibu yang hendak melahirkan buah hatinya. Sebab, segala rasa bercampur aduk kala menekuni prosesnya. Ada rasa sakit, perih, terseok-seok dan rasa bahagia pastinya.
Maka saya sangat memberikan apresiasi yang luar biasa bagi penulis yang mampu membidani kelahiran buah pikirannya.
Proud of you sahabatku, Mba Nurdianah Dixit.
Saya rasa bungkahan rasa yang mengaliri hati saya belum sebanding dengan karya yang tertuang di buku Ukiran Rasa ini yang setara dengan 70 ribu rasa.
Buku Ukiran Rasa berisi tentang berbagai kisah dan goresan seorang Nurdianah Dixit.

Kisah favorit saya adalah tentang "Cinta Lelaki di Ujung Senja" halaman 38-47. Entahlah, rasa perih yang menghujam dada begitu kuat ketika membaca kisah ini. Bagaimana seorang suami yang menceraikan istrinya yang disebabkan oleh sebuah mesin cuci. Saya terhanyut oleh rasa perih yang menyayat dimana seorang istri yang selayaknya sami'na waatha'na pada suami teramat nyinyir. Sampai ia tak memperdulikan apa yang diperbuat suaminya demi meluluskan permintaan istri terkasih.

Begitu selesai membaca part ini, saya langsung mengirim pesan pada Mba Nurdianah, bahwa saya belum sanggup menuntaskan buku ini dalam satu hari. Padahal rekor saya membaca teramat cepat. Setebal apapun bukunya, dalam waktu 2 jam pasti selesai saya lahap. Tapi kali ini, saya tergugu. Teramat perih. Seakan saya menyaksikan sendiri bagaimana kisah demi kisah tayang di hadapan mata.
Huft,,, sahabat sebaiknya kalian baca sendiri buku Ukiran Rasa karya Nurdianah Dixit. Temukan bagaimana rasa yang kalian ingini. Perih, cinta dan keajaiban tujuh puluh ribu rasa.

Untuk order bukunya silahkan hubungi WA 0812-1838-5947.
Atau kalau mau kenalan dulu boleh juga di FB : Alikanurfatiha dianadixit.
Follow juga IG beliau @Nurdianah_dixit


You May Also Like

0 komentar