Menulis Tanpa Menggurui

by - Februari 22, 2017

Bunda, mengungkapkan gagasan lewat tulisan tidaklah mudah. Seringkali apa yang dipikirkan sangat berbeda dengan yang dipahami orang setelah membaca tulisan yang kita buat.

Berbeda dengan bahasa lisan yang didukung oleh banyak faktor seperti intonasi suara, ekspresi wajah dan bahasa tubuh sebagai alat bantu untuk menjelaskan.  Bahasa tulis benar-benar hanya bisa dipahami berdasarkan huruf-huruf yang tertera di media.  Karenanya benar-benar butuh kecakapan untuk menjelaskan maksud kita secara gamblang.

Ketika melempar tulisan ke hadapan pembaca sesungguhnya itu masih bahan mentah dengan harapan pembaca memberi umpan balik  agar saya bisa tahu bahwa ide yang saya sampaikan sudah diterima pembaca sesuai tujuan.

Saya suka mendompleng pada isu yang sedang berkembang karena biasanya berita semacam itu lebih mudah menarik perhatian sehingga pembaca tertarik mampir dan memberi tanggapan.

Tak bisa dipungkiri bahwa apa yang tertuang dalam tulisan hampir seluruhnya berasal dari suara-suara batin dan lintasan-lintasan pikiran sendiri.  Tetapi itu seringkali masih butuh koreksi agar bisa tersaji dalam bentuk tulisan yang tidak multitafsir.

Saya senang ketika ada teman yang mau jujur memberikan penilaian berdasarkan kesan yang didapatkannya setelah membaca tulisan saya.  Namun tak jarang malah konten dari tulisan itu yang jadi perdebatan.  Setiap orang tentu punya pikiran berbeda, saya tak bisa memaksa orang untuk sepaham.  Berbeda pola pikir ya berbedalah.  Saya tak terlalu memusingkan hal seperti itu.  Lain lubuk lain ikannya, lain kepala lain isinya.

Pertemanan menurut saya tak harus dibangun berdasarkan banyaknya kesamaan.  Berbeda justeru membuat kita belajar menyesuaikan diri satu dengan yang lain.  Makanya saya tak pernah meng-unfriend hanya karena berbeda.  Kecuali bila ada teman yang suka menandai untuk promosi barang atau foto-foto. Bukan tak mau membantu hanya demi menjaga kenyamanan teman yang lain.  Bisa-bisa wallnya penuh oleh gambar profil saya.

Sungguh, menulis itu memang tak mudah.  Belajar untuk menuangkan isi pikiran tanpa menggurui saja, butuh keahlian yang belum saya kuasai.  Dan itu butuh orang lain yang mau terbuka menilai.  Tapi memang tak mudah juga sih jadi kritikus, seringkali pemilik lapak malah tak terima kalau pembaca berkata apa adanya.
                         
Tapi, kalau mengeritik saya harus hati-hati, soalnya saya emak-emak yang bisa tekanan darah tinggi juga. Hehe

#justreminder

You May Also Like

0 komentar