Keluar Dari Zona Nyaman

by - Desember 17, 2016


Sesungguhnya ketika seseorang keluar dari zona nyamannnya, pada saat itulah pertaruhan dirinya terhadap dunia luar yang sebenarnya di mulai...

Betapa tidak. Karena dibutuhkan keberanian dan tekad yang kuat guna menapaki berbagai halangan dan rintangan yang mungkin saja di hadapan.

Kapan saatnya yang tepat seseorang keluar dari zona nyaman hidupnya?

Kapanpun yang diinginkan bukanlah masalah waktu. Tetapi lebih kepada persiapan mental sekuat baja.

Sekitar 6 bulan lalu, aku bukanlah apa-apa di dunia kepenulisan. Sekedar melepas seluruh penat hati dan pemenuhan memory. Tersebab kecintaanku yang luar biasa pada buku. Maka sedikit-sedikit memory yang tersimpan dalam tempurung kepala ku tuangkan dalam bentuk tulisan. Senang rasanya setelah mampu menuangkan berbagai rangkaian kata.

Banyak hal yang Tuhan izinkan hadir dalam hidupku yang serba penuh kejutan ini. Bagai naik rollercoaster rasanya. Warna hidup seketika laksana lampu disko yang berkerlap-kerlip.

Sejatinya aku hanyalah seorang IRT yang masih memendam cita-cita setinggi langit.

Writer.

Yah, itulah. Terlalu banyak sabda alam yang berceceran dialam raya ini. Sangat sayang sekali jika hanya dibiarkan terserak di sapu angin. Menjadi berarti ketika helaian daun yang bertulis sabda alam itu, ku punguti satu persatu. Lalu untuk kemudian saya simpul dalam lembaran kitab sakti.

Zona nyamanku adalah ketika aku asyik tenggelam dalam memunguti hikmah, lalu beranjak kepada puisi dan artikel. Waw, sesuatu yang telah lama saya tinggalkan. Sejak tak lagi mengalungi nametag Pers. Sudah lama sekali.

Bagai rendevous, satu-persatu tayangan slide tentang kepenulisan menari-nari di pelupuk mata. Hidupku kembali.

Proses yang lumayan panjang dan melelahkan menuju impian yang tak pernah ku lepaskan dari kotak pandora bernama mimpi.

Berbagai ajang latihan dan support dari teman-teman seperjuangan mengiringi. Ah, indah sekali.

Hingga, suatu hari datanglah tawaran menulis berbayar. Dadaku terasa sesak. Penuh luapan haru dan bahagia. Bukan pada nilai rupiah yang di goreskan pada sehelai kertas itu. Tetapi kepedulian orang lain terhadap tulisan yang kubuat.

Artinya orang mulai memperhatikan dan aku sudah mampu menginspirasi mereka. Aku tak mau segera berpuas diri.
Masih ingin memberikan tantangan bagi diri sendiri.

Lanjut, mencari tantangan. Menulis tentang bisnis stiap hari di sebuah web.

Ya Tuhan. Aku benar-benar telah keluar dari zona nyaman. Terlalu jauh dari yang ada dalam jangkauan pikiranku sendiri.
Sungguh, melakukan kegiatan yang kucintai mampu membawaku sejauh ini.

Berada di luar zona nyaman itu, ternyata tidak terlalu menakutkan. Mungkin gairah yang sangat tinggi pada dunia literasi yang membuat staminaku berlipat. Ditambah lagi dengan dukungan penuh dari pasangan jiwa.

Adrenalin yang terpacu begitu cepat seiring dengan semangat hidup yang kiat membara. Stok ide sudah hampir luber dalam memory otakku. Makanya kemanapun aku pergi selalu membawa notes kecil untuk mencatat segala hal yang kuanggap penting.

Iya, menuliskannya secara manual. Bukan mengetikkannya di layar ponsel pintar.

#masihtermangu

 

You May Also Like

0 komentar