Bangga menjadi ibu

by - November 09, 2016


Saat ini aku telah menjadi ibu dari 3 orang anak. Jarak usia mereka yang tidak sampai 2 tahun, membuat kesibukanku ketika mereka kecil, sangat luar biasa.

Peran seorang ibu yang ku lakoni, hingga sampai pada titik ini sangat tidak mudah. Perjuangan bathin yang sungguh luar biasa. Usia ku ketika menikah 26 tahun. Tentu, tujuan utama setelah menikah untuk sesegera mungkin mendapatkan keturunan.

Selang 4 bulan menikah, buah hati yang ditunggu pun hadir mengisi rahimku. Kedua orang tuaku sudah sangat mengharapkan cucu. Karena aku adalah putri pertama. Tak jauh berbeda dengan keluarga suami, kehadiran cucu dari suami juga sangat ditunggu sebab, suami anak bungsu. Harapan kami dan keluarga besar membuncah kala kukabarkan berita kehamilanku. Semua pihak menyambut gembira.

Namun, malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih. Pada saat usia kehamilanku 4 bulan, janin tidak bergerak lagi. Aku mengalami pendarahan hebat. Kasur dan bantal sudah merah semua. Setelah diperiksa di 4 RS dengan diagnosa yang berbeda. Akhirnya diagnosa terakhir mengatakan, aku keguguran. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Air mata dan perasaan sedih tak terkira. Sehingga, pulang dari RS harus dipapah. Tapi, aku tidak mau dikiret. Minta ramuan tradisional saja pada ibu mertua. Alhamdulillah, setelah bersih dan di USG, dokter menyarankan istirahat " proses" 3 bulan.

Tiga bulan istirahat, Allah kembali menitipkan janin baru dirahimku. Kali ini, aku lebih berhati-hati menjaga kehamilanku ini. Namun, ternyata Allah masih ingin menaikkan derajat hamba-Nya.

Ujian itu kembali diulang. Mungkin aku dianggap belum lulus. Hingga harus remedial. Tepat, usia kehamilan 3 bulan, janin didalam rahimku tidak berkembang. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Allah belum mempercayakan amanah itu untukku dan suami.

Aku seakan diajari untuk belajar ikhlas dan ridho. Sebab, untuk menjadi ibu, mental harus kuat. Jadi, aku senantiasa bergantung di tali pengharapan, bahwa Allah mencintaiku dengan cara menguji ketangguhan mental dan batin. Alhamdulillah, aku dan suami saling menguatkan dan intropeksi diri. Lebih menggali hikmah, bahwa Allah itu Maha Kuasa. Bila Dia berkehendak maka tak ada yang tidak mungkin.
Hasilnya, kami berdua semakin dikuatkan mentalnya dan spiritualnya oleh Allah SWT.

Berkaca dari pengalaman keguguran dua kali yang berturut- turut, banyak hal yang aku pahami. Mungkin rasa keibuanku harus ditumbuhkan terlebih dahulu. Sebab, sebelum menikah, aku bisa dikatakan kurang menyukai anak kecil. Bikin berisik dan merepotkan, menurutku. Tetapi, setelah pengalaman berharga mahal ini, aku mulai memperhatikan anak kecil. Dimulai dengan menyayangi ponakan suami. Ternyata, menyenangkan bermain dengan anak kecil. Melihat binar polos dimata mereka itu, seakan merontokkan egoku sebagai orang dewasa.

Benarlah kata orang, rezeki tak dapat ditolak. Tiga minggu setelah keguguran yang kedua, aku tidak enak badan. Tapi tidak mau periksa ke dokter. Takut berharap. Nrimo saja, kata orang Jawa. Minggu keempat, aku tak dapat lagi menahan diri untuk tidak periksa. Dikhawatirkan, proses pembersihan sisa keguguran yang kedua tidak bersih dan menyebabkan aku sakit.

Ditemani suami, aku periksa ke Puskesmas. Antrian pasien mencapai jam makan siang, padahal pengambilan nomor dari jam 6 pagi. Ketika pemeriksaan mulanya di poli umum. Kemudian dirujuk ke poli bidan. Sebab, riwayatku sebelumnya yang keguguran. Pemeriksaan di poli bidan, panjang sekali. Tes urine, tes HB, cek siklus haid pertama dan terakhir, riwayat keguguran sampai soal suami merokok atau tidak. Melelahkan memang, tapi aku sudah tidak peduli. Mungkin memang prosedurnya begitu.
Sembari menunggu hasil labor yang berlangsung sekitar 1 jam, aku sempat tertidur di ruang tunggu. Begitu namaku dipanggil untuk dibacakan hasil labor, aku masih lemas sekali. "Selamat bu, ibu sedang mengandung". Hanya kalimat pendek itu yang disampaikan dokter. Tapi, efeknya buatku tidak sesederhana itu. Spontan aku berteriak "Allahu Akbar" , berkali-kali.

Jadilah, kehamilanku yang ketiga berjalan baik selama 9 bulan 10 hari. Suka duka selama hamil, hampir seluruhnya aku tuliskan dalam bentuk jurnal. Seperti perubahan fisik dan psikis selama kehamilan. Do dan Do Not selama kehamilan tak lupa aku tuliskan. Bahkan aku kerap mendiskusikan hal-hal yang kuketahui pada dokter.

Jurnal itu berguna sekali sampai kelahiran anak ke tiga. Semua buku dan majalah tentang kehamilan yang aku temui pasti kubeli. Menurutku, sebagai perempuan hamil harus banyak tahu dengan membaca info apapun. Agar selama kehamilan dapat berjalan tenang.

Tepat Jum'at malam pukul 21.00 Wib tanggal 28 Desember 2007, putra pertamaku lahir. Ia tidak menangis. Malah tersenyum sembari kepalanya kecilnya bergoyang mencari arah suara ayahnya. Unik sekali. Ia lahir tidak langsung menangis. Senyum pertamanya, membuat semua keluarga yang melihat takjub. Orang tuaku dan orang tua suami, sempat terkejut melihat bayiku. Ketika suamiku meng-azankan telinga putra kami, barulah tangisnya lantang memecah malam.

Kami memberinya nama SACHYA BILLAZATI SYAVA. Tangisku tak dapat tertahan lagi, tatkala kupandang wajah putraku saat aku melakukan Inisiasi Dini. Kini aku sah sebagai ibu. Hamil dan melahirkan secara normal, hampir tanpa halangan yang berarti. Sakit melahirkan tadi, aku sudah lupa. Bahkan, pada saat proses dijahit, aku bilang pada suami. "Pa, aku mau 5 anak".

Kebanggaan dan kebahagiaan sedang kurasakan. Hingga  dua hari, mataku tak mampu berkedip. Terus menerus menatap pada putra pertamaku. Perjuanganku mendapatkan putra serta gelar "Ibu", sudah terbayar lunas.
Allah ternyata, teramat menyayangiku. Selang 1 tahun 6 bulan berikutnya, aku kembali melahirkan putri cantik yang kami namai SYAVA ATSANEA MUROVIC. Adiknya menyusul ke dunia selang 1 tahun 4 bulan kemudian. Namanya SOVIEN YEMTAZ SYAVA.

Kini, ketiganya sudah berseragam merah putih. Semuanya berurutan. Kelas 3,2 dan 1. Lelah menjadi seorang ibu, sudah pasti. Tapi, nikmatnya sungguh luar biasa. Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Menyaksikan pertumbuhan mereka setiap hari, adalah rezeki yang sangat mahal. Walaupun tanpa ART, Alhamdulillah ketiga anakku mampu ku urus sendirian dan yang penting sehat.

#Emakpintar
#Bitread



You May Also Like

0 komentar