Siapa aku ini bagimu, Nak?

by - Oktober 22, 2016


Dengan tatapan sendu dan sedih seorang bapak menceritakan kisah pilu yang telah sekian lama ia kubur dalam-dalam. Sebagai seorang reporter baru, saya masih suka terhanyut suasana bila berurusan dengan konflik keluarga.
*
Duapuluh lima tahun silam, keluarga kami masih dalam kondisi sangat baik. Saya memiliki seorang anak perempuan dan istri yang cantik. Cantika putri tercinta saya kala itu berusia 5 tahun. Tawa riang selalu terdengar disegenap rumah kami. Baiti jannati. Itulah tagline kami saat itu. Alangkah beruntungnya saya sebagai bapak dan suami.
*
Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Roda kehidupan berputar, sayangnya tidak berpihak pada kami. Usaha periklanan yang saya bangun sejak masih lajang dulu mengalami kebangkrutan. Hutang niaga dan komplen klien datang bertubi-tubi. Tak ada jalan lain, terpaksa rumah besar kami saya jual cepat guna menutupi hutang. Sisa uangnya saya gunakan mengontrak sebuah rumah kecil dan membuka warung kelontong seadanya. Cukuplah untuk biaya hidup sehari-hari.
*
Sayangnya tidak demikian pada istri saya. Dia yang selama ini terbiasa pegang uang dalam jumlah besar dan tinggal di rumah kontrakan terlihat tidak mampu menerima kondisi ini. Jujur, saya juga sedih. Teramat sedih bahkan. Sebagai laki-laki bertanggung jawab, saya juga sedang putar otak mencari jalan untuk segera bangkit dan berjaya seperti sediakala. Demi melihat senyum manis istri tercinta.
*
Suatu hari, Cantika yang kala itu duduk di kelas TK B dinyatakan hilang oleh guru sekolahnya, beberapa menit sebelum saya tiba untuk menjemputnya. Jantung saya seakan berhenti berdetak. Peluh dingin membanjiri sekujur tubuh saya. Bersama para guru, saya dan istri menyusuri jalanan yang sekiranya bakal dilalui Cantika.
Akhirnya, seorang guru menelpon mengatakan bahwa Cantika ditemukan. Bagai laju kijang, saya pacu sepeda motor butut saya menuju lokasi penemuan Cantika. Ternyata dia pulang kerumah temannya tanpa memberi tahu guru sekolahnya. Alhamdulillah. Putri cantik saya diketemukan tanpa kurang sesuatu apapun.
*
"Mas, aku mau kita cerai!", kata istriku tiba-tiba tanpa angin dan badai besar. Ya Allah, apa lagi ini? Baru saja Cantika hilang. Sekarang istriku mau cerai. Apa ini?
"Kalau alasan kamu karena hidup kita seperti ini, aku minta kamu bersabar. Semua akan berlalu. Lagian kamu tidak kasihan sama anak kita,Cantika?".
"Siapa bilang Cantika anak kamu?".
Dhuaarrrrr...!
*
Tampaknya istri saya ngotot mau cerai walaupun dalam kondisi saya sedang terbaring di Rumah Sakit akibat serangan jantung. Sang putri tercintapun dibawa serta.  Innalillahiwainnailaihiraji'un. Semua harta, anak dan istri hanyalah titipan Allah. Bila Allah berkehendak untuk mengambilnya kembali. Apalah daya saya hanya manusia biasa.
*
Tak mudah menata kehidupan dan terlebih hati saya yang hancur porak-poranda. Sebagai lelaki, saya dicampakkan begitu saja kala roda kehidupan saya tengah dibawah. Sebagai ayah, saya ditipu ibunya. Bagaimana mungkin anak yang sedari bayi saya timang-timang kemudian dengan mudahnya, istri saya katakan " Cantika bukan anakmu, Mas". Naas sekali.
*
Tuhan memang menguji hamba-Nya sesuai kemampuannya. Tiga tahun kemudian saya bertemu jodoh saya kembali. Dia perempuan istimewa dimata saya. Sikapnya yang bersahaja dan anggun mampu membuka hati saya yang sempat koyak dimasa lalu. Kami bertemu dipengajian rutin yang saya ikuti. Dengan perantara ustaz proses ta'aruf kami berlangsung lancar sampai ke pelaminan. Semangat hidup saya kembali menyala dan mengubur kisah kelam yang teramat menyakitkan.
*
Bersama dinda Maryam saya beroleh seorang putra tampan di tahun kedua pernikahan kami. Umar namanya. Dengan harapan akhlak dan agamanya kelak seperti sahabat Rasul, Umar bin Khattab. Amin Ya Allah.
*
Seiring berjalannya waktu, dalam kurun waktu lebih kurang 20 tahun, warung kelontong saya semakin besar dan kini telah berubah managemen menjadi mini market. Mini market kami saya namakan "Umar Mini Market". Alhamdulillah, sudah tersebar di beberapa kota besar di Indonesia.
*
Keluarga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah, kini tengah saya reguk bersama dinda Maryam dan Umar putra kami. Baiti Jannati saya, kembali.
*
Hingga, sebulan lalu.
Datang seorang gadis cantik dengan rambut hitamnya yang terurai menemui saya dirumah. Tanpa banyak basa-basi dia meminta saya untuk menjadi wali nikahnya. Saya terkejut luar biasa.
"Siapa namamu nak?".
"Cantika, pak".
"Kenapa minta saya menjadi wali nikahmu?".
"Ibu bilang, anda adalah ayah kandung saya Pak. Saya bawakan akte kelahiran saya. Disini, tertera bapak Indra Akbar adalah ayah kandung saya".
Dhuaarrrr...!
*
"Siapa aku ini bagimu, Nak?".
*
Sampai detik ini, Cantika tak mampu menjawab pertanyaan saya. Pun ibunya. Malah dia dan ibunya melaporkan masalah ini ke polisi. Dan menjadi bulan-bulanan media gosip. Innalillahiwainnailahirajiun. Segalanya milik Allah dan akan kembali milik Allah.
*
Selama proses wawancara saya dengan bapak Indra Akbar, beliau selalu ditemani oleh bu Maryam, istrinya dan Umar anaknya.
"Saya titip pesan di media mba Nova ya. Tolong sampaikan pada neng Cantika, aku ini siapa baginya?".
*****
Saya tak ingin mengambil kesimpulan apapun. Sebab terikat dengan kode etik jurnalitik. Berusaha memandang perjalanan dan lika-liku hidup orang lain se-objektif mungkin.
*****
#edisiFiksi
#Depok14102016
#NovaYulfia

You May Also Like

0 komentar