Menulis membentuk pola fikir

by - Agustus 18, 2016

Mengutip kata-kata seorang teman, bahwa menulis itu adalah sebuah proses berfikir. Yup, saya sangat setuju.
Gaya tulisan dan pemilihan diksi akan mencerminkan pola fikir seseorang. Jadi, menulis ini tidak hanya melatih untuk berlaku jujur namun juga membentuk t pola fikir kita menjadi lebih terstruktur. Mudah dipahami oleh orang lain. Apalah gunanya menceritakan banyak hal bila tidak dipahami oleh siapapun.
Suatu hari seorang teman berkisah tentang hidupnya yang yang tengah di rundung konflik internal keluarganya. Dengan sangat berapi-api ia menuturkan pada saya bagaimana peliknya permasalahan itu.
"Jadi, aku diajak untuk klarifikasi masalah ini jeng, supaya jelas titik terangnya. Aku tidak mau menebak-nebak kelanjutannya".
Seminggu berlalu, teman saya itu datang lagi pada saya dan menceritakan proses klarifikasi tempo hari.
"Jadi, proses klarifikasi nya gagal jeng?", tanya saya.
"Lha iya jeng. Gimana mau klarifikasi, wong begitu sang saksi kunci angkat bicara dia kabur alias walk out kayak sidang-sidang di DPR itu", jawabnya dengan muka manyun.
Saya terdiam dan ikut sibuk berfikir dengan masalah teman saya itu.
Ah, sudahlah saya tidak mau terlibat. Cukup menyediakan kedua telinga saya saja untuk mendengarkan segala keluh kesahnya. Bisa jadi ia hanya butuh telinga saya saja, tidak dengan mulut saya.
Yang masih mengganjal dalam benak saya adalah, semakin banyak orang zaman sekarang menggunakan istilah ilmiah menjadi bahasa sehari-hari. Secara pribadi saya senang. Berarti masyarakat kita semakin berkembang pemikirannya.
Tetapi, dalam prakteknya dalam keseharian, istilah-istilah ilmiah yang kerap kali mereka ucapkan tidak secara keseluruhan mereka pahami. Artinya hanya sekedar ikut-ikutan.


Contohnya si keluarga teman saya, apa defenisi "klarifikasi" yang sesungguhnya? Dia tidak paham, dan teman saya paham. Akhirnya terjadi gagal fokus.
Disini saya belajar banyak hal. Yaitu dimana pola fikir itu harus dilatih melalui apapun medianya, termasuk dengan menulis. Sebab, orang yang berusaha memaksakan pola fikirnya pada orang lain dan metodenya menentang norma umum, menurut saya ia belumlah memiliki pola fikir yang terstruktur.
Bukankah esensi komunikasi adalah 'sampai-nya' pesan yang ingin kita sampaikan.
Jadi, saya sangat beruntung mencintai dunia literasi yang mendidik saya untuk berlatih membentuk pola fikir yang terstruktur, sehingga saya dengan mudah menyampaikan "pesan" yang ingin saya sampaikan, tanpa membuat kening orang berkerut tajam.


Salam santun, Depok 5 Mei 2016.

#Edisi berbagi aura positif.

You May Also Like

0 komentar