Ayah, jangan hancurkan masa depanku!

by - Agustus 18, 2016


Alkisah seorang anak bernama Fulan yang kini tengah meratapi nasibnya. Apa sebab? Ia tidak berpendidikan, alias tak bersekolah. Padahal usianya baru menginjak 18 tahun. Tak banyak yang bisa dilakukannya dalam keseharian. Hanya seputar hidup mamalia saja. Makan, tidur dan keluyuran tak tentu arah. Posturnya gagah dengan kulit hitam manis. Namun, cahaya matanya kian redup. Seiring arah hidup tak berhaluan. Orang tua si Fulan sudah habis akal untuk memperbaiki anak mereka. Disuruh sekolah, tak mau. Disuruh kerja bantu ayahnya berjualan di toko mereka yang tersebar seantero kota, tak mau juga. "Mau jadi apa kau Fulan?", pungkas ibunya. Yang ditanya hanya mengangkat bahu dan berlalu, pergi.
Miris nian nasib si Fulan, kini.
****
Memutar waktu kebelakang, 4 tahun silam. Kala itu Fulan masih berseragam biru putih. Masa remaja awal yang sedang dilanda pubertas dan proses pencarian jati diri. Masa coba-coba hal baru. Cobain ngerokok ditoilet sekolah, bolos sekolah saat pelajaran matematika, rambut diwarnain alay plus polem (poni lempar) dan beli paket kecil shabu yang dijual preman tatoan.
Komplit sudah kenakalan Fulan. Orang tuanya yang kaya raya itu tau? Tidak.
Setiap bulan secara rutin ayah Fulan menyumbang pada Yayasan tempat Fulan bersekolah. Secara tidak langsung Fulan menjadi 'raja kecil' disana.
Namun hal ini tak berlangsung lama. Saat pertukaran pejabat di struktur internal sekolah. Pak Aljabar yang terkenal paling disiplin dan juga sebagai guru matematika dipromosikan naik jabatan sebagai Kepala Sekolah.
Suasana sekolah total berubah sehari setelah pelantikan beliau. "Jika ingin sukses tegakkan disiplin". Itulah motto beliau yang sesegera mungkin ditransfer pada seluruh anak didiknya.
Setiap jam pelajaran beliau selalu memantau tiap ruang kelas guna memastikan tak ada guru yang kosong dan murid yang bolos.
Fulan bukan tak tau akan perubahan yang terjadi disekolahnya sejak Pak Aljabar menjadi Kepsek. "Mana brani Pak Aljabar marahin aku, kan ayahku penyumbang terbesar di sekolah ini", ia bergumam.
Dan Pak Kepsek baru tak menutup mata dengan ulah perangai si Fulan disekolah dan sepak terjangnya diluar sekolah.
Hingga tiba harinya dimana fakta bertemu muka.
Siang itu masih jam sekolah, si Fulan ditemukan dan beberapa temannya yang lain oleh Pak Kepsek sedang merokok di toilet sekolah. Serta merta Pak Kepsek murka. Hukumannya mereka dijemur didepan tiang bendera sampai kelas usai. Supaya memberi efek jera, Pak Kepsek mencubit area perut Fulan dan teman-temannya dihadapan seluruh siswa dan guru. Pemandangan gratis itu menjadi bahan cemoohan dan tertawaan bagi tiap siswa yang hendak pulang.
Malu, panas, kesal dan marah berkecamuk dalam diri Fulan.
Tatkala hukuman selesai, Fulan dan teman-temannya diperbolehkan pulang.
Setiba dirumah Fulan menceritakan kejadian dicubit dan dipermalukan gurunya Pak Aljabar. Sang ayah berang sangat. Tak terima anaknya diperlakukan demikan. Pun harga dirinya sebagai pengusaha tersohor merasa direndahkan. Hari itu juga ia mendatangi sekolah bersama pengacaranya dan memaki sang guru yang telah berupaya mendidik Fulan. Tidak sampai disitu, kasus Fulan dicubit guru matematikanya dimeja hijaukan, oleh ayah Fulan. Harap maklum, negeri Fulan masih mendewakan uang. Uang berkuasa diatas segalanya. Apalah lacur, jika bicara uang di negeri itu.
Singkat cerita, sang guru matematika dijebloskan ke penjara atas dugaan pelanggaran HAM.
Lantas bagaimana sekolah si Fulan?. Ia dikeluarkan. Mutlak.
Ayah Fulan tak habis akal. Ia carikan sekolah terbaik di negri nya dengan biaya termahal. Bahkan ia akan bayar sampai kuliah, lunas. Namun apa daya, tak satupun berkenan.
****
Rupanya sanksi sosial ini membuat Fulan berduka. Mentalnya roboh. Harga diri yang sedang dibangunnya melorot tanpa sisa.
"Duhai badan diri, apalah guna hidup bila tak bersekolah. Disana ada teman sepermainan dan seperjuangan. Bersama mengunyah ilmu pengetahuan dan merajut mimpi. Kini tiada lagi,,,". Ratap Fulan sepanjang hari bersama waktu.
****
Tinggallah Fulan kini, tubuh tanpa ruh dan benak. Nyaris tiada beda dengan si puss.

#fiksi
#marimerenungsejenak

You May Also Like

0 komentar